Filter sangat diperlukan didalam sistem akuaponik untuk menghilangkan atau mengurangi limbah ikan, agar limbah ikan tidak menimbulkan ekses negatif di dalam sistem, seperti tersumbatnya aliran air, akumulasi limbah ikan di dalam sistem dapat menimbulkan kondisi anaerob dan akar tanaman dapat terlapisi limbah ikan sehingga tanaman kesulitan untuk menyerap nutrisi dan oksigen dan lain sebagainya. Padatan ikan dikurangi oleh filter dan air yang mengalir kembali ke kolam ikan menjadi jernih dan layak huni bagi ikan.
Beberapa jenis ikan dapat hidup di dalam kondisi air yang keruh atau
kotor, seperti ikan lele dan sejenisnya, akan tetapi semua ikan tidak
dapat bertahan apabila di dalam air kotor tersebut mengandung penyakit.
Jadi, semua organisme yang dibutuhkan di dalam akuaponik : ikan, tanaman
maupun bakteri pengurai membutuhkan beberapa sistem filtrasi agar dapat
hidup sehat tanpa resiko terkena penyakit.
Bagaimanakah Seharusnya Sistem Filtrasi Yang Baik Didalam Akuaponik?
Di dalam sistem akuaponik yang berbasis media dimana bak tanam penuh
berisi media seperti : kerikil, hidroton, pecahan genting dan lain-lain
dapat berfungsi sebagai mekanisme bio filtrasi yang utama. Bak penuh
media tersebut menjadi metode filtrasi utama dan melakukan fungsi yang
cukup baik di dalam mengeliminasi padatan ikan, kecuali tingkat padatan
ikan dibuat lebih tinggi dari nilai aman, akan membutuhkan filter
tambahan. Pembahasan mengenai rasio tingkat kepadatan ikan dapat dilihat
pada artikel lainnya.
Kualitas air akan menjadi masalah ketika ada penambahan ikan yang
melebihi kapasitas filtrasi didalam sistem. Pada awalnya, kotoran ikan
tidak terlihat menumpuk karena ikan masih kecil. Pada waktu ikan mulai
besar, maka kualitas air menjadi kurang jelas. Banyak partikel-partikel
kecil kotoran ikan melayang-layang di dalam tangki ikan.
Aturan praktis di dalam menjaga kesehatan lingkungan sistem adalah
menyesuaikan tingkat densitas ikan dengan tingkat filtrasi. Apabila bak
tanam berbasis media berukuran kecil dan hanya satu-satunya mekanisme
filtrasi utama, maka perlu untuk mengurangi beban ikan atau
meningkatkan/menambah sistem filtrasi. Menambah sistem filtrasi dapat
dilakukan dengan menambah filter luar atau menambah bak tanam berbasis
media ekstra.
Limbah ikan, bahan-bahan organik lainnya dan ganggang yang tumbuh di
dalam sistem jika dibiarkan menumpuk akan mempengaruhi tingkat oksigen
terlarut (Dissolve Oxygen) di dalam sistem, terutama di dalam tangki
ikan. Seluruh limbah/bahan organik tersebut akan menghasilkan karbon
dioksida dan amonia. Apabila terjadi penumpukan limbah/bahan organik
yang mati di dalam tangki ikan dan dibiarkan terus-menerus, maka akan
terurai secara anaerobik (kondisi tanpa oksigen) dan akan menghasilkan
gas metana dan hidrogen sulfida, dimana gas tersebut akan meracuni
kondisi lingkungan akuaponik. Jadi beberapa proses pemeliharaan dan
kontrol kualitas air diperlukan apabila tingkat densitas ikan di dalam
sistem akuaponik terlalu tinggi.
Dianjurkan kepadatan tebar ikan yang sesuai agar beban sistem tidak
berat. Pada dasarnya sistem akuaponik dibangun untuk menjaga
keseimbangan dalam keharmonisan, seperti ekosistem yang terdapat di alam
lingkungan sekitar.
Di dalam sistem akuaponik metode tanam Deep Water Culture (rakit apung),
Nutrient Film Technique maupun Deep Flow Technique, filter sangat
mutlak diperlukan. Metode tanam tersebut umumnya diaplikasikan pada
sistem akuaponik skala komersial yang besar dimana tingkat kepadatan
ikan dibuat tinggi atau sangat tinggi untuk tujuan ekonomis.
Rangkaian/urut-urutan filter untuk metode-metode tanam tersebut adalah :
filter pemisah/penangkap padatan ikan (settling tank), biofilter dan
degassing filter (filter mineralisasi). Jenis-jenis filter
pemisah/penangkap padatan ikan adalah : clarifier filter, swirl filter
dan radial flow filter. Berikut adalah gambar-gambar berbagai macam
filter tersebut :
Berapa Banyak Padatan Ikan Yang Harus Dikeluarkan Didalam Sistem Akuaponik?
Menghapus semua padatan ikan dalam sistem akuaponik adalah suatu
pekerjaan yang menyita waktu, kecuali memakai filter yang mahal dan
canggih. Didalam sistem akuaponik tidak perlu semua padatan ikan dibuang
seluruhnya. Sebagian padatan ikan harus terdekomposisi oleh bakteri
pengurai, agar dapat digunakan sebagai nutrisi untuk pertumbuhan
tanaman. Nutrisi penting untuk pertumbuhan tanaman tersebut dirilis ke
air yang disebut sebagai proses mineralisasi. Mineralisasi adalah esensi
dari pertumbuhan tanaman. Jika semua padatan ikan dihapus/dihilangkan
dalam sistem, maka disebut sebagai budidaya tanpa nutrisi dan bukanlah
sistem akuaponik. Apabila demikian, tumbuhan memerlukan nutrisi
eksternal karena tanpa adanya padatan ikan untuk proses mineralisasi.
Suplementasi nutrisi lebih diperlukan. Hal ini tentunya akan menambah
biaya operasional dan meningkatkan kompleksitas pengelolaan sistem
akuaponik. Akuaponik adalah suatu sistem dimana banyak sekali yang belum
sepenuhnya memahami atau mengerti. Keseimbangan menjaga kesehatan ikan
dan pertumbuhan tanaman adalah penting. Air bersih di dalam sistem
sangat penting dan begitu pula nutrisi yang terperangkap didalamnya.
Semoga bermanfaat..




Social Plugin